nama Indri rahmita

Pedoman Membaca Al-Qur’an
Muhammad Royhan Daulay1,Indri rahmita
Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan
Email-daulaymuhammadroyhan.iainpsp@blogger.com Indri rahmita@gmail.com

ABSTRAK
Learn to read the its Al-Quran law is fardhu Ain, very ironic once when at school a lot of protege which not yet can read and write the Al-Quran better and real correct. Therefore strive the school and institute the education to push the enthusiasm of student student of so that/ to be] easy to mempejari alquran of through/ passing set of proper curriculum in aprisiasi. Through construction process which kontuitas and have ladder to can be expected can be complete of student which not yet can read and write the Al-Quran With The Applying Read To Write the Holy ( BTQ) is activity educate, teaching, guiding, and train the competitor educated / citizen learn in make-up of interest. Read To Write the Holy ( BTQ) which is in doing/conducting by alonely in local payload curriculum structure. Read To Write the Holy ( BTQ) as area curriculum is obliged to for competitor educated / citizen learn which believe in the Islam, what solely for improve the understanding and obstetrical content deed of Al-Qur'an. And Also Ability Read Al-Quran
ABSTRAK
Belajar membaca Al-Qur'an hukumnya adalah fardhu Ain, sangat ironis sekali ketika di sekolah banyak anak didik yang belum bisa membaca dan menulis Al-Qur'an dengan lebih baik dan benar. Oleh karena itu upayakan sekolah dan lembaga pendidikan untuk mendorong semangat siswa siswanya agar mudah mempejari alquran melalui seperangkat kurikulum yang tepat dalam aprisiasi. Melalui proses pembinaan yang kontuitas dan berjenjang diharapkan dapat diselesaikan siswa yang belum dapat membaca dan menulis Al-Quran Dengan Penerapan Read To Write Holy (BTQ) adalah kegiatan mendidik, mengajar, membimbing, dan melatih siswa. peserta didik / warga belajar dalam peningkatan minat.




PENDAHULUAN
Baca Tulis Quran (BTQ) adalah kegiatan mendidik, mengajar, membimbing, dan melatih peserta didik / warga belajar dalam peningkatan kompetensi. Baca Tulis Quran (BTQ) yang di lakukan secara tesendiri dalam struktur kurikulum muatan lokal. Baca Tulis Quran (BTQ) sebagai kurikulum daerah wajib bagi peserta didik / warga belajar yang beragama Islam, yang semata-mata untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan isi kandungan Al-Qur’an. Banyak faktor yang melatarbelakangi diadakannya Kurikulum Baca Tulis Quran (BTQ) ini, diantaranya adalah kurangnya waktu tatap muka jam pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) khususnya baca tulis Al-Quran di sekolah-sekolah Kabupaten Banyuwangi. Dari sanalah Kurikulum Baca Tulis Quran (BTQ) ini lahir. Selain itu, kemampuan membaca dan menulis Al-Quran merupaka sebuah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap siswa-siswi yang beragama Islam. Karena adanya sekolah yang menggunakan sarana baca tulis Al-Quran yang menjadikan syarat dalam PSB (Penerimaan Siswa Baru). Tapi pada dasarnya Kurikulum Baca Tulis Quran (BTQ) merupakan sebuah produk dari adanya otonomi daerah yang terjadi saat ini. Bukan hanya di bidang ekonomi yang ditonjolkan, namun dunia pendidikan juga harus digalangkan supaya terciptanya kesejahteraan masyarakat dan tercapainya kehidupan bangsa yang cerdas sesuai dengan tujuan pendidikan pada Pembukaan UU 1945. Itulah phenomena yang terjadi di Kabupaten Banyuwangi yang sudah mengalami kemajuan di bidang pendidikan. Dan dengan adanya pembaharuan di bidang pendidikan khususnya yang terkait dengan kurikulum secara tidak langsung ini menjadi tugas kita sebagai pendidik untuk mencari tahu kekurangan atau kelebihan serta hambatan-hambatan dalam Kurikulum Baca Tulis Quran (BTQ).
Metode Penelitian
Tulisan ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Metode studi kepustakaan sebuah metode pengumpulan data yang diarahkan kepada pencarian data dan informasi melalui dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar, maupun dokumen elektronik yang dapat mendukung dalam proses penulisan. Sumber data pada penelitian ini adalah literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian. Sebagaimana yang dikatakan Maman, bahwa Sumber data kualitatif adalah tindakan dan perkataan manusia dalam suatu latar yang bersifat alamiah. Sumber data yang lainnya ialah bahan-bahan pustaka, seperti: dokumen, arsip, koran, majalah, jurnal ilmiah, buku, laporan tahunan dan lain sebagainya

Hasil Dan Pembahasan
Pedoman Membaca A- Qur’an
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995)  memberikan definisi membaca sebagai: melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati);  mengeja atau melafalkan apa yang tertulis; mengucapkan, mengetahui, meramalkan, menduga; memperhitungkan; memahami. Kata iqra yang terambil dari kata qara a pada mulanya berarti menghimpun. Apabila anda merangkai huruf atau kata kemudian anda mengucapkan rangkaian tersebut, anda telah menghimpunnya. Atau dalam bahasa Al-Qur an qara tahu qira atan, arti asal kata ini menunjukkan bahwa iqra yang diterjemahkan dengan bacalah.  Dari definisi diatas dapat di simpulkan bahwa membaca bukan merupakan kegiatan yang sederhana, tapi merupakan suatu kegiatan yang kompleks dan rumit. Membaca bukan sekedar kegiatan verbal, membunyikan huruf-huruf, tapi merupakan sebuah proses penerjemahan simbol-simbol bunyi menjadi sebuah makna. Dalam istilah komunikasi proses ini disebut dengan decoding, atau dalam psikolinguistik disebut dengan persepsi. Berdasarkan uraian tentang definisi membaca di atas, kemampuan membaca dapat dikelompokkan menjadi: a. Kemampuan melafalkan simbol-simbol bunyi yang tertulis Kemampuan pada tingkat ini merupakan tujuan pembelajaran membaca pada sekolah dasar kelas 1 dan 2. Atau pada pembelajaran bahasa kedua, misalnya bahasa arab pada Universitas Negeri Jakarta, 1 M. Quraisy Shihab, Membumikan Al-Qur an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
Demikianlah perintah membaca merupakan perintah yang  Iqra atau perintah membaca, adalah kata pertama dari wahyu pertama yang diterima oleh nabi Muhammad saw. Kata ini sedemikian pentingnya sehingga diulang dua kali dalam rangkaian wahyu pertama. Mungkin mengherankan bahwa perintah tersebut ditujukan kepada seseorang yang tidak pernah membaca suatu kitab sebelum turunnya Al-Qur an. Perintah ini tidak hanya ditujukan kepada pribadi nabi Muhammad saw semata-mata, tetapi juga untuk umat manusia sepanjang sejarah kemanusiaan, karena realisasi perintah tersebut merupakan kunci pembuka jalan kebahagiaan hidup duniawi dan paling berharga yang dapat diberikan kepada umat manusia. Karena membaca merupakan jalan yang mengantar manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna. Sehingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa membaca adalah syarat utama guna membangun peradaban. Sejarah umat manusia secara umum dibagi dalam dua periode utama: sebelum penemuan tulis-baca dan sesudahnya, sekitar lima ribu tahun yang lalu. Peradaban yang datang mempelajari peradaban yang lalu dari apa yang ditulis oleh yang lalu dan dapat dibaca oleh yang kemudian. Manusia tidak lagi memulai dari nol, berkat kemampuan baca-tulis itu. Manusia bertugas sebagai abad lillah dan juga sebagai khalifah fi al-ardh. Kedua fungsi ini adalah konsekuensi dari potensi keilmuan yang dianugerahkan Allah kepada manusia, sekaligus sebagai persyaratan mutlak bagi kesempurnaan pelaksanaan kedua tugas tersebut. Demikian iqra merupakan syarat pertama dan utama bagi keberhasilan manusia. 
mengherankan jika ia menjadi tuntutan pertama yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia. Ada yang merasa heran mengapa ayat pertama dari ayat tersebut adalah Iqro atau perintah membaca. Padahal Nabi Muhammad seorang Ummi (tidak bisa baca-tulis). Keheranan akan sirna jika disadari pula bahwa perintah ini tidak hanya ditujukan kepada pribadi Nabi Muhammad semata, tetapi juga kepada umat manusia sepanjang sejarah kemanusiaan. Realisasi perintah tersebut merupakan kunci pembuka jalan kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi. Menurut Quraisy Shihab, Iqro bukannya perintah untuk membaca dari suatu teks tertulis, karena di samping Nabi Muhammad adalah seorang Ummi, juga karena riwayat-riwayat yang shahih menjelaskan bahwa Jibril a.s. tidak membawa suatu naskah tertulis ketika menyampaikan wahyu kepada beliau. Ada yang berpendapat bahwa perintah membaca, menelaah, meneliti, menghimpun, dan sebagainya dikaitkan dengan ismi rabbika (nama tuhanmu), yang berarti dengan nama Tuhanmu. Jadi terdapat kesimpulan bahwa mengaitkan membaca dengan nama Allah SWT. mengantarkan pelakunya untuk tidak melakukannya kecuali karena Allah yang kekal abadi dan hanya aktifitas yang dilakukan secara ikhlas yang akan diterima-nya. Tanpa keikhlasan semua aktifitas akan berakhir dengan kegagalan. Pada ayat 4 dan 5, salah bentuk karam (kemurahan) Allah SWT. Ayat tersebut menyifati Tuhan yang maha pemurah. Dengan demikian rangkaiannya menerangkan sebagian bentuk atau cara Allah SWT. dalam melimpahkan kemurahan-nya. Disana pula dapat ditemukan kaitan yang erat antara kandungan ayat-ayat yang lalu dengan ayat-ayat berikutnya.
Dari segi bahas kata qalama berarti memotong ujung sesuatu. Anak panah yang runcing ujungnya dan yang bisa digunakan untuk mengundi dinamai qalam. Alat yang digunakan untuk menulis dinamai pula qalam karena pada mulanya alat tersebut dibuat dari suatu bahan yang dipotong dan di peruncing ujungnya. Dalam ayat yang ditafsirkan ini, kata yang digunakan, yakni qalam, adalah alat, tetapi yang dimaksud adalah hasil penggunaan alat tersebut, yakni tulisan. Pengertian ini ditarik karena sulit digambarkan bagaimana pena yang merupakan alat itu dapat digunakan sebagai pengajaran. Yang logis adalah tulisan yang terbaca yang dapat menghasilkan pengajaran. Mufasir Al-Alusy menjelaskan, ayat-ayat ini menguraikan bahwa Allah mengajar manusia dengan pena atau tanpa pena, baik persoalan-persoalan yang bersifat global dan jelas, maupun yang terperinci dan kabur serta yang tidak terlintas dalam benak seseorang. Dari uraian diatas kita dapat menyatakan bahwa ayat 4 dan 5, surat Al-Alaq menjelaskan dua cara yang ditempuh Allah dalam mengajar manusia. Pertama melalui pengajaran secara langsung, tanpa alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan istilah ilm ladunny.  Tujuan Membaca Al-Qur an Tujuan Al-Qur'an secara terperinci sbb: - Untuk memimpin manusia ke jalan keselamatan atau kebahagiaan. - Untuk memelihara atau mempertahankan martabat manusia. - Untuk memelihara dan mempertahankan kesucian manusia. - Untuk memperkenalkan Allah. - Untuk memperkenalkan manusia. - Untuk memberitahukan tentang kebenaran dan hukum tuhan kepada manusia .Qurish Shihab, Tafsir Al-Qur an Al-Karim;tafsir atas surat-surat pendek. 
 Untuk mengobati penyakit rohani Adab Membaca Al-Qur an Islam menjelaskan beberapa hal yang disunnahkan dalam membaca Al-Qur an, di antaranya: a. Berwudhu sebelum membaca Al-Qur an. Karena membaca Al-Qur an adalah zikir yang paling utama. Dalam sebuah hadits dijelaskan; rasulullah aw tidak suka berzikir kecuali dalam keadaan suci. b. Membaca Al-Qur an ditempat yang suci, terutama di dalam masjid. Sebaliknya dimakruhkan membaca Al-Qur an di kamar mandi atau di jalan. c. Ketika membaca Al-Qur an, duduk sambil menghadap kiblat; dengan khusyuk, tenang, dan tertib sambil menundukkan kepala. d. Membersihkan gigi (bersiwak) sebelum membaca Al-Qur an sebagai bentuk penghormatan dan penyucian terhadap-nya. e. Membaca isti adzah atau ta awudz sebelum membaca A-Qur an. f. Membaca basmalah pada awal setiap surah selain surah at-taubah. g. Membaca Al-Qur an secara tartil (pelan dan jelas sesuai kaidah tajwid Al-Qur an). h. Membaca Al-Qur an dengan merenungkan makna (tadabbur) dan memahami arti (tafahhum). i. Memperindah suara ketika membaca Al-qur an. j. Membacanya dengan jahr yakni dengan suara yang keras. k. Membaca Al-Qur an dengan melihat mushaf (bi al-nadzar) karena itu lebih utama daripada membaca dengan hafalan (bi al-ghaib). 8 l. Mengulang-ulang bacaan untuk mengkaji dan menghayati. m. Menangis saat membaca Al-qur an. 7 Syahminan Zaini, Kewajiban Orang Beriman terhadap Al-Qur an. (Surabaya: Usana Offset Printing, 1982), hlm Muhammad ibn Alawi al-maliki al-hasan, Samudra Ilmu-Ilmu Al-Qur an, Ringkasan Kitab al-itqan fi Ulum Al-Qur an Karya al-imam Jalaluddin al-suyuthi.
 Memanjatkan do’a saat membaca ayat-ayat rahmah, bila melewati ayat-ayat yang menjelaskan masalah rahmat. Sangat dianjurkan memanjatkan do a kepada Allah swt agar selalu dilimpahi rahmat. Begitu juga ketika melewati ayat yang menjelaskan masalah siksa, maka disunnahkan memohon perlindungan-nya. o. Larangan bergurau saat membaca Al-Qur an dan mendengarkannya. p. Larangan menggunakan bahasa lain, selain bahasa arab. q. Membaca dengan qira ah sab ah. r. Membaca sesuai urutan surah. s. Membaca Al-qur an secara bersama dan bergantian. membaca Al- Qur an dengan cara berjama ah itu lebih afdhal daripada membaca sendirian Keutamaan Membaca Al-Qur an Diantara keutamaan membaca Al-Qur an ialah sbb: a. Di hari kiamat sebagai pemberi syafa at bagi orang-orang yang membacanya. b. Orang yang membaca Al-Qur an dengan baik maka ia bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti, dan orang yang membaca Al- Qur an dengan tersendat-sendat an susah payah maka baginya dua pahalssshha. c. Sesungguhnya Allah akan mengangkat martabat beberapa kaum dengan Al-Qur an dan akan menjatuhkan beberapa kaum yang lain dengan Al-Qur an pula. d. Al-Qur an memberi ketesnangan bagi para pembacanya.  e. Seutama-utama ibadahnya umatku adalah membaca Al-Qur an. f. Melakukan shalat dan membaca Al-Qur an dapat membuat terang tempat tinggal. g. Sebaik-baik dari kamu sekalian adalah orang yang belajar Al-Qur an
Definisi Al-Qur’an sebagaimana disampaikan oleh Zakiah Darajat ialah wahyu Allah yang dibukukan, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, sebagai suatu mukjizat, membacanya dianggap ibadat, sumber utama ajaran Islam. Menurutnya Pengajian atau pembelajaran al-Qur’an bagi anak-anak telah lama membudaya dalam masyarakat Islam. Hanya saja sistem dan caranya perlu diperbaharui dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan metode mengajarkan berbagai macam pelajan. Metode pengajaran al-Qur’an ini perlu diperbaharui dan dikembangkan karena dibutuhkan oleh masyarakat Islam karena mereka ingin dapat membaca al-Qur’an dengan baik.
Tujuan Membaca Al-Qur’an
Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril, kitab suci Alquran bukan hanya kitab suci umat Islam, melainkan berisi perintah Allah, pedoman, sejarah, hingga kisah Islam yang patut diketahui umatnya. Turunnya isi Alquran dilakukan secara berangsur-angsur selamat 22 tahun 2 bulan 27 hari atau hampir 23 tahun. Selain sebagai pedoman hidup, kitab suci Alquran banyak memiliki manfaat bagi orang-orang yang senantiasa membaca, mengamalkan atau bahkan menghafalnya. Berikut tujuh manfaat yang akan didapat bagi umat muslim yang rajin membaca Alquran. 
Salah satu manfaat yang akan dirasakan bagi orang yang rajin membaca Alquran adalah hati terasa lebih damai dan nyaman. Membaca Alquran berarti mengingat-ingat akan kebesaran Allah SWT. Ingatnya kita terhadap Allah SWT akan membuat hati terasa tentram dan lebih lembut dalam menyikapi sesuatu. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran surat Ar- Ra’d ayat 28 yang artinya:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.” 

Membaca Alquran tidak harus banyak, yang penting adalah konsisten dan ikhlas semata-mata karena Allah SWT. yaikh Hafidzahullah mengatakan bahwa sesungguhnya kandungan yang paling agung yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah tentang makrifatullah ‘Azza wa Jalla (pengenalan tentang Allah), juga pengenalan tentang nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang luhur. Karena perkara-perkara yang dikandung oleh Al-Qur’an mencakup tiga perkara yang besar.  Syaikh Hafidzahullah mengatakan bahwa sesungguhnya kandungan yang paling agung yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah tentang makrifatullah ‘Azza wa Jalla (pengenalan tentang Allah), juga pengenalan tentang nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang luhur.
Karena perkara-perkara yang dikandung oleh Al-Qur’an mencakup tiga perkara yang besar.Yang pertama yaitu pengenalan tentang Tuhan yang berhak disembah yaitu Allah ‘Azza wa Jalla juga tentang nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Maka dalam Al-Qur’an ada pengenalan tentang Allah ‘Azza wa Jalla sehingga seseorang jika mengenal Allah ‘Azza wa Jalla hatinya akan semakin mengagungkan, memuliakan, mencintai dan berharap serta takut hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perkara yang kedua yang dikandung oleh Al-Qur’an yaitu pengenalan tentang jalan yang menyampaikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yaitu dengan cara mengikuti perintah dan menjauhi larangan-laranganNya. Yang ketiga yang dikandung oleh Al-Qur’an yaitu penjelasan tentang apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sediakan dari pahala bagi orang yang mentaatiNya dan hukuman bagi orang yang mendurhakaiNya. Ini adalah kandungan-kandungan Al-Qur’an secara umum. Dan kandungan yang paling agung yaitu pengenalan tentang Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu surat Al-Ikhlas sama dengan sepertiga Al-Qur’an. Karena surat Al-Ikhlas dimurnikan untuk penjelasan tentang sifat Allah ‘Azza wa Jalla.
Upaya Meningkatkan Keterampilan MembaBaca Tulis Al-Qur`an
Usia dini merupakan fase pembentukan kepribadian yang tepat untuk ditanamkan nilai-nilai kebaikan ke dalam jiwa setiap anak. Sosok guru memiliki peran sentral dalam membimbing, mendidik, dan mengerahkan segenap potensi yang dimiliki peserta. Dengan asumsi bahwa fase ini sering disebut sebagai periode keemasan (golden age) dan memiliki kemampuan menerima rangsangan dari luar lebih cepat, sehingga perlu diarahkan kepada hal-hal yang bersifat positif. Wajar apabila kita membaca sejarah bahwa Imam Syafii telah hafal al-Qur`an pada usia 7 tahun, hafal kitab Al-Muwaththa` Imam Malik pada usia 9 tahun, dan pada usia 10 tahun telah menguasai tafsir al-Qur`an . Kemampuan hafalan dan pemahaman terhadap al-Qur`an yang masih tergolong langka di usianya yang cenderung kebanyakan anak-anak lebih senang bermain daripada menghabiskan waktunya untuk belajar. Atas dasar itu pula pelaksanaan pembelajaran al-Qur`an sangat diperlukan untuk dilakukan sejak dini sebagai bentuk habituasi nilai-nilai kebaikan, yakni untuk memaksimalkan kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif yang termasuk ke dalam dimensi tujuan pembelajaran dan dinamika pembelajaran yang bersifat internal. Sedangkan dinamisasi dari luar (eksternal) berasal dari guru atau pendidik, dimana pendinamisasian belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak didik menghadapi bahan ajar, penciptaan suasana belajar yang menyenangkan, optimalisasi media, sumber belajar, dan mengoptimalkan peran sebagai pembelajar. Dua aspek penting dalam kegiatan pembelajaran, yakni aspek pertama berkaitan dengan aspek hasil belajar yang berupa perubahan tingkah laku, dan aspek kedua berkaitan dengan aspek proses belajar yang berupa sejumlah pengalaman intelektual, emosional, dan fisik pada diri anak didik. Faktor keberhasilan pendidikan ditunjang oleh kompetensi guru dalam layanan pembelajaran yang menunjukkan profesionalitas di dalam kepribadiannya. Tugas yang digambarkan itu adalah 1) penyelenggaraan proses pembelajaran yang menuntut guru untuk menguasai materi dan mengemasnya sesuai scope, sequence, dan tujuan pendidikan, 2) tugas yang berhubungan dengan murid dalam mengatasi masalah belajar, 3) guru harus memahami bagaimana kegiatan pembelajaran di sekolah itu dikelola (Rusman, 2013). Atas dasar inilah, seorang guru dituntut lebih kreatif serta inovatif dalam mengemas kegiatan pembelajaran agar mampu memberikan pemahaman yang utuh dan dapat dipahami oleh siswa dengan baik. Melalui kegiatan menyimak, bermain, dan bercerita menjadi salah satu alternatif diantara teknik mengajar al-Qur`an yang ditawarkan oleh penulis dan solusi untuk menangani permasalahan yang terjadi di atas, disamping terdapat beragam metode mengajar al-Qur`an lainnya seperti metode ummi, metode Baghdad, metode iqro, dan metode an-Nahdiyah yang tentunya  digunakan guru sehingga mengakibatkan kegiatan pembelajaran menjemukan dan kurang bermakna, siswa menjadi malas belajar dan cenderung pasif.

Kesimpulan
definisi membaca sebagai: melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati);  mengeja atau melafalkan apa yang tertulis; mengucapkan, mengetahui, meramalkan, menduga; memperhitungkan; memahami. Kata iqra yang terambil dari kata qara a pada mulanya berarti menghimpun. Apabila anda merangkai huruf atau kata kemudian anda mengucapkan rangkaian tersebut, anda telah menghimpunnya. Atau dalam bahasa Al-Qur an qara tahu qira atan, arti asal kata ini menunjukkan bahwa iqra yang diterjemahkan dengan bacalah.  Dari definisi diatas dapat di simpulkan bahwa membaca bukan merupakan kegiatan yang sederhana, tapi merupakan suatu kegiatan yang kompleks dan rumit. Membaca bukan sekedar kegiatan verbal, membunyikan huruf-huruf, tapi merupakan sebuah proses penerjemahan simbol-simbol bunyi menjadi sebuah makna.







Daftar Pustaka
Mardiyo.(1999),  Pengajaran Al-Qur’an. (Yogyakarta.  Pustaka Jaya
Sehertian,(1993),   Belajar Menulis Ayat Al-Qur;an,( Yogyakarta: Ofsset
  Soedijarto,(1993) Belajar Al-Qu’an,( Jakarta: Gramedia
Nana Sudjana, (2009) Dasar-dasar proses belajar mengajar, (Bandung, Sinar Baru Algesindo 
Wijaya,(1998), Pedoman Membaca AL-qur’an, (Jakarta: PT. Jaya Makmur